Jumat, 11 Januari 2013



Tikus-tikus Negara
(shakalya wirma)

Tersipu duduk kau di sana
Bersantai di kursi goyang
Terlelap dalam kesejukan
Sayup dalam lamunan
Lamunan angan sang jutawan

Ya . . . sang jutawan
Angan menjadi raja jutawan
Hingga, mereka tak berdaya
Di buat angan sang raja
Raja tikus yang jutawan

Ingin murka ingin menerka
Menerjang tikus-tikus negara
Menerkam sarang-sarang mereka
Membakar kerajaan indahnya
Hingga sirna, tak terlihat oleh mata

Tikus-tikus negara . . .
Tak kau lihat semut-semut bangsa
Terinjak-injak kau melangkah
Tak adakah hati tersirat olehnya
Tak punya rasa di relung hatinya

Rindu
(shakalya wirma)

Setiap hari, setiap saat
Yang terus memutar hidupku
Selalu ada dirimu
Yang ada di benak ku

Entah  . . . entah apa yang terjadi padaku
Aku bingung . . .
Mengapa aku seperti ini

Kadang ku berfikir
Ada apa dengan diriku ini
Apa yang terjadi padaku
Mengapa aku harus mengenalmu

Bayangmu selalu ku ingat
Ingin ku coba menghilangkannya
Namun aku tak bisa

Tuhan . . .
Bantulah diriku
Kembalikan dia padaku
Atau hapus semua tentang dirinya

Hanya itu yang ku inginkan, oh Tuhan . . .
Kabulkanlah permintaanku ini
Karna ku tak sanggup lagi
Memikul beban rindu ini

Mengapa Engkau Berubah
(shakalya wirma)

Pagi, siang, sore, malam
Detik, menit, jam
Hari, minggu, bulan dan tahun
Penantian kami tak pernah berujung
Hanyalah menanti kehadiran dirimu

Hanya dosa kecil engkau pergi
Hanyalah nakal dari kami
Yang bisa mengenangmu
Sifatmu yang melupakan kami
Dan juga diri-Nya
Akan berakhir maaf bila kau kembali

Akankah dirimu mengingat anak-anakmu
Akankah dirimu mengingat ibu
Yang senantiasa selalu mengingatmu
Berangan-angan engkau kembali lagi
Kembali bersama-sama lagi
Bercanda tawa lagi
Bersama kami yang selalu menanti
Menanti kebersamaan bersamamu
Di sepanjang masa hidup kami

Kembalilah Duhai Sahabatku
(shakalya wirma)

Kemana . . .
Kemanakah aku harus mencari . . .
Mencari dirmu
Duhai sahabatku

Sekian lama ku mencarimu
Tak pernah ku kenal kata lelah dan letih
Pencarian dan penantianku
Tak kan pernah berakhir sudah

Aku yakin dirimu pasti mengingatku
Sama seperti diriku
Yang tak pernah melupakan dirimu
Hingga nafasku berhenti
Ku kan setia menanti dan menunggu
Dirimu, duhai sahabatku

Kenangan indahku bersamamu
Canda tawaku denganmu
Bersamamu, ku menjalani hidupku
Yang penuh tantangan di masa lalu
Namun, mengapa semua ini cuma kenangan

Mengapa ku di jauhkan denganmu
Di jauhkan dengan jarak dan waktu
Karna tujuan dan cita-citamu
Karna impian di masa depan

Ku memohon pada diri-Mu
Pertemukanlah diriku
Pada dirinya, duhai sahabatku
Yang tak kan pernah
Ku lupakan sepanjang hidupku

Akankah Cintaku Menyatu?
(shakalya wirma)

Cinta . . .
Apa itu cinta?
Hatiku bingung dengan cinta
Cinta yang tak tau punya siapa

Aku ingin cinta . . .
Dan aku ingin engkau
Yang mencintaiku tulus
Dari hati sanubarimu

Tapi, akankah engkau mencintaiku?
Aku tulus mencintaimu
Tapi, akankah juga cinta kita kan menyatu?
Karna kita amatlah berbeda

Aku tak tau apa yang ku fikirkan ini
Aku aneh dengan diriku ini
Hanya satu harapan dari sikapku ini
Yaitu cinta yang amat indah darimu

Aku akan selalu dan selalu
Mencintaimu, walau rintangan bertubi
Aku ingin selalu berada disisimu
Walau hanya sesaat, cinta itu pasti ada
I love you forever . . .

Sepi
(shakalya wirma)

Dinginnya malam menghembus
Dan membelai tanganku
Gelap, sunyi bagai tak berpenghuni
Sendiri, ku hanya sendiri

Bintang yang bersembunyi
Di balik awan dan bulan
Hanyalah setengah saja
Itulah yang menemaniku

Fikiranku melayang
Tak tau harus apa?
Kebingungan, dengan air mata bercucuran
Membasahi pipih yang kusam

Helaian buku telah lusuh
Menulis tak tau apa itu
Sepinya hidupku menusuk jiwaku
Yang hanya sendirian

Ku sangat menanti kehadiran dirimu
Hadirnya dirimu menemanihidupku
Dengan senyuman yang indah
Taburkan pesona cinta

Namun semua hanyalah angan
Angan yang terlalu tinggi
Tak kan mungkin ku miliki
Itulah rintihan sepinya hatiku . . .

Relakan Ku Pergi
(shakalya wirma)

Wahai kau yang mencintaiku
Maafkan ku yang hina ini
Ku harus pergi
Karna ku tak pantas untukmu

Aku hanyalah makhluk
Yang tak pantas kau cintai
Cintamu itu hanyalah
Untuk orang yang layak

Maafkan aku yang telah melukaimu
Maafkan aku yang telah menghianatimu
Ku tau cintamu tulus
Sungguh, kau salah memilih

Aku bukan orang yang kau cari
Kau carilah orang yang tulus
Sungguh-sungguh mencintaimu
Dengan tulus dan penuh cinta

Maafkan ku harus pergi
Relakan ku harus pergi
Do’akan ku supaya ku selalu
Baik-baik saja, sayang . . .

Hangat Dekap Bunda
(shakalya wirma)

Kau berikanku penerangan
Di saat kegundaan jiwa datang
Menyelimuti kesepian

Ketika malam tiba
Terselimutkan dekapan hangat
Seorang kasih sang bunda
Menghangatkan jiwaku
Terpancar kasih sayang
Penuh ketulusan, penuh cinta
Iklas, rela demiku
Agar tak kesepian

Terima kasih bunda
Ku ingin kau dekap aku
Untuk kasihmu, selamanya . . .

Do’a untukMu, Tuhan
(shakalya wirma)

Tuhanku . . .
Bicaralah padaku bila aku kesepian
Bisikkan dukunganMu bila aku aku dirundung kecemasan
Dengarkanlah suaraku bila aku jatuh
Sudihlah menjadi bagiku penghibur dalam perjalanan
Tempat bernaung di waktu panas
Tempat berteduh di kala hujan
Tongkat penuntun dalam kelelahan
Dan penolong dalam bahaya
Semoga aku berhasil
Mencapai tujuanku
Sekarang, dan juga nanti
Pada akhir hidupku

Sahabat
(shakalya wirma)

Ketika dikesendirian
Hening dengan kesunyian
Hampa tampa tujuan
Kau datang dengan sejuta kehidupan

Saat kerapuan datang mencekam
Jiwa tak dapat berdiri
Kau datang dengan banyak kisah
Ajarkan semua kisah indahnya dunia

Ya . . . kaulah sahabat
Yang membawa arti kehidupan
Arti sebuah kebersamaan
Arti sebuah kedamaian

Sahabat dengan sejuta kisah
Hadir temani, saat susah dan senang
Sahabat . . . tampamu jiwaku rapuh
Terima kasihku, hadirkanmu dalam hidup

Memberi warna, indah penuh sejuta kenangan
Kenangan yang tak terlupakan
Walau jauh ke ujung dunia
Kau slalu ada untukku
Dalam hayat hidupku

Perasaan

Kau diam, aku diam . . .
Membisu dalam hening
Kebisuan terselimuti keraguan
Terdiam dalam tanya
Keluarkan suara untuk jawab
Namun . . .
Semua tetap terkunci dalam kebisuan
Entah mungkin berkutat dalam lorong fikiran kita
Mencari-cari jawaban yang kita cari
Tapi bukankah kita masing-masing tau
Tau akan jawab pertanyaan ini
Tak ada beda semua sama
Berkali berkutat dalam lorong fikiran kita
Mencari-cari jawaban yang kau cari
Tapi bukankah kita masing-masing tau
Tau akan jawab pertanyaan ini
Tak ada beda semua sama
Berkali berkutat dalam lorong fikiran kita
Jawaban tetap sama
Jadi untuk apa?
Kesia-siaan dalam kebisuan
Atau hindari jawaban yang telah ada
Berkali-kali kau hindari semua sama
Semua akan berujung kearah sana
Jadi katakan keluarkan isi suara
Suara perasaan kita
Tuk saling jujur
Bukan jawaban terselimuti kebohongan
Nah . . . katakan dengan jujur
Jawaban itu . . .
Pecahkan kebisuan dan keheningan ini
Pecahkan . . .